Header Ads Widget

Mengenal Apa Itu Web 3.0 ?

Mengenal Apa itu Web 3.0

Mengenal Apa Itu Web 3.0? - Miliaran manusia saat ini telah masuk kedalam suatu koneksi jaringan luas yang disebut dengan World Wide Web. Koneksi tersebut didukung dengan infrastruktur jaringan yang stabil dan kuat sebagai tempat dimana mereka berinteraksi dan saling berbagi informasi. Akan tetapi koneksi tersebut dimanfaatkan sebagai pengendalian terpusat atau sentralisasi oleh sebagian entitas untuk mengendalikan komunitas didalam jaringan tersebut. Sentralisasi yang diterapkan pada sebuah world wide web (WWW) menyebabkan kebebasan kita terkendalikan sepihak oleh sebagian entitas tersebut.

Kita sebagai entitas individu ingin agar yang kita lakukan didalam dunia yang luas tersebut tidak dibatasi oleh aturan yang menjegal. Sistem desentralisasi yang sedang dibangun saat ini adalah solusi untuk menghadapi dominasi sistem sentralisasi yang dimonopoli oleh kekuasaan dan kapitaalis. Web3 menerapkan desentralisasi agar menempatkan entitas kekuasaan dalam dunia web sepenuhnya berada ditangan penggunanya, dan kapitalis tidak bisa mengendalikan penggunanya.

Sejarah Web

Sebagian besar orang saat ini menganggap dan sepakat bahwa Web merupakan pilar pendukung keberlangsungan kehidupan modern. Dan itu baru ditemukan saat ini. Namun web yang kita ketahui saat ini sangat berbeda dengan awal-awal kemunculan web pertama kali ada. Agar kita lebih memahami sejarah web dengan baik, sebaiknya kita bagi sejarah singkat web kedalam dua periode.

Periode Web 1.0

Pada tahun 1989, di CERN, Jenewa, Tim Berners-Lee sibuk mengembangkan protokol yang akan menjadi World Wide Web. Ide pengembangan protokol tersebut adalah untuk membuat protokol terbuka dan terdesentralisasi yang memungkinkan berbagi informasi dari berbagai belahan bumi manapun.

Awal pertama kali protokol ini diciptakan, inilah yang dikenal sebagai 'Web 1.0', ini berlangsung kira-kira antara tahun 1990 hingga 2004. Web 1.0 sebagian besar ditandai dengan website yang berbsifat statis yang hanya dimiliki oleh perusahaan, dan tidak ada interaksi antara pengguna. Web 1.0 hanya berjalan satu arah, dan tidak memungkinkan bagi individu untuk menghasilkan konten, ini dikenal juga sebagai web read-only.

Jaringan Web 1.0

Periode Web 2.0

Periode Web 2.0 dimulai pada tahun 2004 seiring dengan kemunculan platform media sosial. Jika dibandingkan dengan periode Web 1.0, periode ini lebih baik karena web sudah bisa baca-tulis, web berkembang menjadi read-write. Read-write artinya website sudah bisa menampung interaksi antar pengguna dan penyedia layanan website yang memungkinkan untuk menjalin komunikasi dua arah.

Disamping web 2.0 menyediakan konten bagi penggunanya, mereka juga mulai menyediakan platform untuk berbagi konten dan melibatkan interaksi pengguna-ke-pengguna (user-to-user). Karena semakin banyaknya pengguna online, ini dimanfaatkan oleh entitas teknologi besar untuk mengontrol trafik dan menghasilkan nilai manfaat web yang tidak proporsional.

Web 2.0 juga melahirkan model bisnis digital untuk meraup pendapatan yang didorong oleh iklan. Meskipun pengguna sendiri bisa membuat konten, teapi mereka tidak bisa memilikinya atau mendapat manfaat dari monetisasinya.

Web 2.0

Periode Web 3.0

Istilah 'Web 3.0' diciptakan oleh salah satu pendiri Ethereum, Gavin Wood, istilah ini tidak lama setelah diluncurkanya Ethereum pada tahun 2014. Gavin memberikan kata-kata solusi untuk masalah yang dirasakan oleh banyak pengadopsi kripto awal: Web membutuhkan terlalu banyak kepercayaan. Artinya, sebagian besar Web yang digunakan orang saat ini bergantung pada kepercayaan perusahaan swasta untuk bertindak demi kepentingan pengguna.

Web 3.0

Apa Itu Web3?

Web3 telah menjadi istilah umum untuk visi baru sebuah teknologi internet untuk arah yang lebih baik. Pada intinya, Web3 menggunakan melibatkan blockchain, cryptocurrency, dan NFT untuk memberikan kekuatan kembali kepada pengguna dalam bentuk sebuah kepemilikan. Pada sebuah tweetan tahun 2020 di Twitter ada hal yang menarik yaitu: Web1 hanya-baca, Web2 baca-tulis, Web3 akan baca-tulis-sendiri.

Prinsip Utama Web3

Meskipun sampai saat ini kita sulit untuk memberikan definisi yang baku tentang apa itu Web3, akan tetapi kita bisa mengetahui dari beberapa panduan prinsip dasar atas pembuatannya.

  • Web3 bersifat terdesentralisasi: Sebagian besar internet saat ini dikendalikan dan dimiliki oleh entitas terpusat, kepemilikan didistribusikan di antara pembuat dan penggunanya. Dengan desentralisasi maka kepemilikan atas akun tidak lagi dikendalikan oleh pusat, tapi oleh pengguna sendiri. 
  • Web3 tidak memerlukan izin: Setiap pengguna memiliki akses yang sama untuk berpartisipasi di Web3, tanpa ada pengecualian.
  • Web3 memiliki pembayaran asli (native payment): Web3 menggunakan cryptocurrency sebagai alat transaksi belanja dan mengirim uang secara online. Ini di rasa lebih baik daripada harus menggunakan infrastruktur bank dan pemroses pembayaran yang sudah ketinggalan zaman.
  • Web3 kurang dapat dipercaya: Dikarenakan web3 beroperasi dengan menggunakan insentif dan mekanisme ekonomi, maka akan lebih baik melibatkan pihak ketiga yang lebih tepercaya.

Mengapa Web3 itu penting?

Meskipun terdapat killers feature atau fitur pembunuh pada Web3 yang tidak bisa dicegah dan tidak sesuai dengan kategori yang ditentukam. Untuk menyederhanakan itu, kami mencoba untuk memisahkannya agar lebih mudah dipahami. 

Kepemilikan

Web3 memberi kepemilikan aset digital untuk penggunanya dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Misalnya, saat kamu sedang memainkan game web2. Jika kamu membeli item dalam game, maka item tersebut akan terikat langsung ke akun milik kamu. Jika pembuat game menghapus akun kamu, maka kamu juga akan kehilangan item tersebut. Atau, jika kamu berhenti bermain game, maka kamu akan kehilangan nilai yang kamu investasikan pada item game. tersebut

Web3 memungkinkan kepemilikan langsung melalui token yang tidak dapat dipertukarkan (NFT). Tidak seorang pun, bahkan pembuat game sekalipun, untuk memiliki kekuatan untuk mengambil kepemilikan kamu. Dan, jika kamu berhenti bermain, kamu tetap bisa menjual atau memperdagangkan item game kamu di pasar terbuka dan mendapatkan kembali nilainya.

Resistensi sensor

Dinamika kekuatan antara platform dan pembuat konten sangat tidak seimbang.

OnlyFans merupakan situs konten yang dibuat oleh pengguna dengan lebih dari 1 juta pembuat konten, banyak di antaranya menggunakan platform ini sebagai sumber pendapatan utama mereka. Pada Agustus 2021, OnlyFans mengumumkan rencana untuk melarang konten seksual eksplisit. Pengumuman tersebut memicu kemarahan di antara pembuat konten di platform, yang merasa pendapatan mereka dirampok oleh platform tersebut. Setelah penguna melakukan serangan balik, maka keputusan tersebut dibatalkan. 

Kasus tersebut diatas merupakan salah satu contoh dari permasalahan web 2.0. Meskipun Creator atau pencipta memenangkan sengketa tersebut, namun hal ini tetap menjadi sorotan bagi pembuat Web 2.0: Kamu akan kehilangan reputasi jika kamu meninggalkan platform.

Web3 menempatkan data kamu berada pada jaringan blockchain. Saat kamu memutuskan untuk meninggalkan platform, kamu bisa membawa reputasi kamu dan beralih ke interface lain yang lebih jelas dengan nilai-nilai kamu. Di Web 2.0 mengharuskan pembuat konten untuk mempercayai bahwa platform benar-benar tidak mengubah aturan. Untuk menghindari kecurangan yanga ada pada Web 2.0 maka Web 3.0 menerapkan fitur resistensi sensor pada platform.

Organisasi otonom terdesentralisasi (DAO)

Selain kepemilikan data kamu di Web3, kamu juga bisa memiliki platform secara kolektif, dengan menggunakan token yang bertindak seperti saham di perusahaan. DAO - Decentralized Autonomous Organization memungkinkan kamu mengoordinasikan kepemilikan platform yang terdesentralisasi dan membuat keputusan tentang masa depannya.

DAO didefinisikan secara teknis sebagai kontrak pintar yang disepakati yang mengotomatiskan pengambilan keputusan terdesentralisasi atas kumpulan sumber daya (token). Pengguna dengan token memberikan suara tentang bagaimana sumber daya dibelanjakan, dan kode akan secara otomatis melakukan hasil pemungutan suara.

Namun, banyak orang mendefinisikan komunitas Web3 sebagai DAO. Semua komunitas ini memiliki tingkat desentralisasi dan otomatisasi yang berbeda berdasarkan kode. Saat ini, kami sedang menjajaki apa itu DAO dan bagaimana mereka bisa berkembang di masa depan.

Identitas

Secara umum, kamu akan membuat akun untuk setiap platform yang kamu gunakan. Misalnya, jika kamu memiliki akun Twitter, akun YouTube, dan akun Instagram. Lalu kamu ingin mengubah nama tampilan atau gambar profil kamu, yang biasa dilakukan adalah harus melakukannya di setiap akun. Memang kamu bisa menggunakan login dengan sosial media, tetapi ini menimbulkan masalah berupa penyensoran. Dalam satu klik saja, maka platform ini bisa mengunci kamu dari seluruh kehidupan online kamu. 

Hal yang lebih buruk lagi, banyak platform mengharuskan kamu untuk mempercayai mereka dengan informasi pengenal pribadi untuk membuat akun. Web3 memecahkan masalah ini dengan memungkinkan kamu untuk mengontrol identitas digital kamu dengan alamat Ethereum dan profil ENS. Menggunakan alamat Ethereum menyediakan satu login di seluruh platform yang aman, tahan sensor, dan anonim.

Pembayaran asli (Native Payment)

Infrastruktur pembayaran Web2 bergantung pada bank dan pemroses pembayaran, tidak termasuk orang tanpa rekening bank atau mereka yang kebetulan tinggal di perbatasan negara yang salah. Web3 menggunakan token seperti ETH untuk mengirim uang langsung di browser dan tidak memerlukan pihak ketiga yang tepercaya.

Batasan Web3

Terlepas dari banyaknya manfaat Web3 dengan segala bentuknya yang ada saat ini, Namun tetap web3 masih ada banyak keterbatasan yang harus diatasi oleh ekosistem agar bisa terus berkembang.

Aksesibilitas

Fitur penting Web3, seperti Masuk dengan Ethereum, sudah tersedia bagi siapa saja untuk digunakan tanpa biaya. Namun, biaya transaksi relatif masih menjadi penghalang bagi banyak orang. Web3 cenderung tidak digunakan di negara berkembang karena biaya transaksi yang tinggi. 

Di Ethereum, tantangan ini bisa diselesaikan melalui peningkatan jaringan dan solusi pen-skalaan layer atau lapisan 2 (layer 2). Teknologi ini sudah siap, tetapi masih membutuhkan tingkat adopsi yang lebih tinggi pada layer 2 untuk membuat Web3 dapat diakses oleh semua orang.

Pengalaman pengguna (User Interface)

Hambatan teknis yang ada saat ini ketika login menggunakan Web3 terlalu tinggi. Pengguna harus memahami masalah keamanan, memahami dokumentasi teknis yang kompleks, dan menavigasi antarmuka pengguna yang tidak intuitif. Penyedia dompet (wallet) sedang bekerja untuk menyelesaikan masalah ini, dan diperlukan sebelum Web3 diadopsi secara massal.

Pendidikan

Web3 memperkenalkan paradigma baru yang memerlukan pembelajaran model mental yang berbeda dari yang digunakan di Web2.0. Dorongan pendidikan yang sama juga terjadi ketika Web1.0 mulai populer di akhir 1990-an. Pendukung world wide web menggunakan banyak teknik pendidikan untuk meng-edukasi masyarakat dari metafora sederhana sampai siaran televisi, Web3 tidak sulit, tetapi berbeda. Melalui proses pendidikan yang menginformasikan ke pengguna Web2 tentang paradigma Web3 ini sangat penting untuk keberhasilannya.

Ethereum.org berkontribusi pada pendidikan Web3 melalui Program Penerjemahan kami, yang bertujuan untuk menerjemahkan konten penting Ethereum ke sebanyak mungkin bahasa.

Infrastruktur terpusat

Ekosistem Web3 terbilang masih muda namun sudah berkembang pesat. Akibatnya, saat ini sebagian besar masih bergantung pada infrastruktur terpusat (GitHub, Twitter, Discord, dll.). Banyak perusahaan Web3 bergegas mengisi celah ini, tetapi untuk membangun infrastruktur yang andal dan berkualitas tinggi membutuhkan cukup waktu.

Masa depan yang terdesentralisasi

Web3 juga merupakan ekosistem muda dan berkembang. Gavin Wood menciptakan istilah ini pada tahun 2014, tetapi banyak dari ide-ide ini yang baru direalisasikan. Pada tahun lalu saja, telah terjadi lonjakan besar dalam minat terhadap cryptocurrency, peningkatan solusi penskalaan layer 2, merupakan eksperimen besar-besaran yang berbentuk tata kelola baru, dan revolusi dalam identitas digital.

Artikel terkait:

Post a Comment

0 Comments