Header Ads Widget

Apakah Komputasi Kuantum Menjadi Ancaman Bagi Crypto?

Apa itu komputasi kuantum

Apakah Komputasi Kuantum Menjadi Ancaman Bagi Crypto? - Komputasi kuantum atau Quantum Computing (QC) telah menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi masa depan cryptocurrency dan teknologi blockchain dalam beberapa tahun terakhir. Kekhawatiran oleh sebagian kalangan pegiat crypto dan blockchain, ini didasarkan pada asumsi mereka yang menganggap bahwa komputer kuantum sangat canggih, sehingga tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan bisa memecahkan enkripsi dari teknologi blockchain saat ini, sehingga wajar, jika sekuriti keamanan menjadi perhatian serius bagi penggunaan di ruang blockchain.

Saat ini memang Protokol kriptografi SHA-256 yang digunakan pada keamanan jaringan Bitcoin tidak dapat dipecahkan oleh komputer jenis apapun untuk saat ini. Namun, para ahli mulai berkeyakinan bahwa tidak menutup kemungkinan seiring perkembangan teknologi dari komputasi kuantum, maka enkripsi kriptografi Bitcoin akan bisa terpecahkan. Dan ini yang perlu di antisipasi oleh pengembang teknologi blockchain.

Terkait dengan apakah pemegang protokol kriptografi harus khawatir terhadap komputer kuantum yang akan dianggaap menjadi ancaman terhadap cryptocurrency, Johann Polecsak, chief technology officer dari QAN Platform, platform blockchain layer-1, mengatakan kepada Cointelegraph:

"Tentu saja. Tanda tangan kurva elips — yang mendukung teknologi blockchain utama saat ini, terbukti rawan terhadap serangan QC, sehingga ini bisa rusak, yang mana ini hanya mekanisme otentikasi dalam sistem saja. Setelah sistem tersebut rusak, maka tidak bisa lagi untuk membedakan pemilik dompet (wallet) yang sah dan peretas yang telah berhasil memalsukan tanda tangan.” 

Jika ada sebuah algoritma hash kriptografi yang saat ini sudah pernah diretas, maka aset digital yang bernilai ratusan miliar akan rentan terhadap pencurian dari para pelaku kejahatan siber - cyber. Akan tetapi, terlepas dari kekhawatiran atas ancaman QC saat ini, setidaknya kita masih lega, karena komputasi kuantum masih memiliki jalan panjang sebelum menjadi ancaman yang serius bagi teknologi blockchain. Dengan demikian tugas utama pengembang blockchain adalah berlomba dengan developer QC untuk menciptakan teknologi canggih sebagai sistem difensif, jika suatu saat QC benar-benar menjadi ancaman.

Apa itu komputasi kuantum?

Komputasi kuantum atau komputer kuantum atau Quantum Computing (QC) adalah teknologi yang muncul dan berkembang dengan cepat, QC memanfaatkan hukum mekanika kuantum untuk memecahkan masalah yang terlalu rumit yang ada pada komputer klasik. Pada komputer klasik pemprosesan informasi dan perhitungan dilakukan dengan menggunakan "bit." Namun sayangnya, bit-bit tersebut tidak bisa dihadirkan secara bersamaan pada dua kondisi dan dua status yang berbeda.

Sebagai gantinya, bit komputer tradisional yang memiliki nilai 0 atau 1 ini yang disebut binary. Ibarat sebuah sakelar lampu saat dihidupkan atau dimatikan, pilihanya adalah 0 untuk mati dan 1 untuk nyala. Oleh karena itu, jika ada sepasang bit, misalnya, bit tersebut hanya dapat menampung satu dari empat kombinasi potensial setiap saat: 0-0, 0-1, 1-0 atau 1-1. Maka dampaknya adalah mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan perhitungan yang rumit, yaitu perhitungan yang perlu memperhitungkan setiap konfigurasi potensial.

Dengan kehadiran komputer kuantum, ini tidak beroperasi di bawah batasan yang sama seperti komputer tradisional. Sebaliknya, mereka menggunakan sesuatu yang disebut bit kuantum atau "qubit" daripada bit tradisional. Qubit ini dapat hidup berdampingan di status 0 dan 1 secara bersamaan. Seperti disebutkan sebelumnya, dua bit hanya bisa secara bersamaan menampung satu dari empat kemungkinan kombinasi yang ada. Namun, sepasang qubit mampu menyimpan keempatnya secara bersamaan. Dan jumlah opsi yang tumbuh secara eksponensial dengan setiap qubit tambahan.

Akibatnya, komputer kuantum bisa melakukan banyak perhitungan sekaligus mempertimbangkan beberapa konfigurasi yang berbeda. Misalnya, pertimbangan prosesor Sycamore 54-qubit yang dikembangkan Google. Ia mampu menyelesaikan perhitungan dalam 200 detik yang yang mana jika proses tersebut diselesaikan oleh superkomputer paling kuat di dunia sekalipun, akan membutuhkan waktu 10.000 tahun untuk menyelesaikannya.

Secara sederhana, komputer kuantum jauh lebih cepat daripada komputer tradisional karena mereka menggunakan qubit untuk melakukan banyak perhitungan secara bersamaan. Selain itu, karena qubit dapat memiliki nilai 0, 1 atau keduanya, mereka jauh lebih efisien daripada sistem bit biner yang digunakan oleh komputer saat ini.

Jenis-jenis serangan komputasi kuantum

Apa yang disebut storage attack yaitu serangan terhadap sistem penyimpanan yang melibatkan pihak jahat yang mencoba untuk mencuri uang tunai dengan berfokus pada alamat blockchain yang memiliki celah atau kelemahan utuk di hack, mencari titik kelemahan alamat blockchain biasanya mencari tahu di mana kunci publik dompet (wallet) terlihat di buku besar untuk publik.

Setidaknya ada empat juta Bitcoin (BTC), atau 25% dari semua BTC, rentan terhadap serangan komputer kuantum hal ini dikarena pemiliknya menggunakan kunci publik yang tidak di-hash atau mereka menggunakan kembali alamat BTC. Komputer kuantum memiliki kemampuan untuk menguraikan kunci pribadi dari alamat publik yang tidak di-hash. Jadi jika kunci pribadi berhasil diuraikan, maka pelaku kejahatan bisa mencuri dana pengguna langsung dari dompet mereka.

Para ahli telah memperhitungkan bahwa daya komputasi kuantum yang dibutuhkan untuk melakukan serangan ini akan jutaan kali lebih banyak daripada komputer tradisional saat ini, yang hanya memiliki kurang dari 100 qubit. Namun demikian, para peneliti di bidang komputasi kuantum telah memperkirakan bahwa jumlah qubit yang digunakan mungkin akan mencapai 10 juta selama sepuluh tahun ke depan.

Untuk melindungi diri dari serangan komputasi kuantum, maka pengguna Cryptocurrency harus menghindari penggunaan kembali alamat atau memindahkan dana mereka ke alamat di mana kunci publik belum pernah dipublikasikan. Mungkin ini terdengar cara yang tepat secara teori, tetapi memang untuk melakukan ini tentunya akan terlalu membosankan jika penggunaannya tiap hari.

Seseorang dengan akses ke komputer kuantum yang kuat mungkin akan mencoba untuk mencuri uang dari transaksi blockchain dengan meluncurkan serangan transit. Karena berlaku untuk semua transaksi, maka cakupan serangan ini jauh lebih luas. Namun, dengan melakukanya akan lebih menantang karena si penyerang harus menyelesaikannya sebelum penambang dapat melakukan transaksi.

Sebagian besar, penyerang memiliki waktu tidak lebih dari beberapa menit karena waktu konfirmasi pada jaringan seperti Bitcoin dan Ethereum hanya sebentar. Sehingga peretas juga membutuhkan miliaran qubit untuk melakukan serangan semacam itu, dan ini membuat risiko serangan transit jauh lebih rendah daripada serangan penyimpanan. Namun demikian, hal itu masih menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh pengguna crypto.

Melindungi dari serangan saat transit bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk melakukan ini, kita perlu untuk mengganti algoritma tanda tangan kriptografi yang mendasari blockchain menjadi yang tahan terhadap serangan kuantum.

Langkah-langkah untuk melindungi dari serangan komputasi kuantum

Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh komputasi kuantum sebelum ia bisa dianggap sebagai ancaman yang serius terhadap teknologi blockchain.

Selain itu, teknologi blockchain kemungkinan besar akan berkembang untuk mengatasi masalah keamanan kuantum pada saat komputer kuantum tersedia secara luas. Sudah ada cryptocurrency seperti IOTA yang menggunakan teknologi Direct Acyclic Graph (DAG) yang dianggap tahan terhadap serangan kuantum. Berbeda dengan blok yang membentuk blockchain, grafik asiklik terarah terdiri dari node dan koneksi di antara mereka. Dengan demikian, catatan transaksi kripto berbentuk node. Kemudian, catatan pertukaran ini ditumpuk menjadi satu di atas yang lain.

Block lattice juga merupakan teknologi berbasis DAG lainnya yang tahan kuantum. Jaringan Blockchain seperti QAN Platform menggunakan teknologi untuk memungkinkan pengembang membangun kontrak pintar yang tahan kuantum, aplikasi terdesentralisasi, dan aset digital. Kriptografi kisi tahan terhadap komputer kuantum karena didasarkan pada masalah yang mungkin tidak dapat dipecahkan oleh komputer kuantum dengan mudah. Nama yang diberikan untuk masalah ini adalah Shortest Vector Problem (SVP). Secara matematis, SVP adalah pertanyaan tentang bagaimana menemukan vektor terpendek yang berdimensi tinggi.

Diperkirakan bahwa SVP sulit dipecahkan oleh komputer kuantum karena sifat komputasi kuantum, yang hanya bisa ketika keadaan qubit sepenuhnya selaras, prinsip superposisi dapat digunakan oleh komputer kuantum. Komputer kuantum menggunakan prinsip superposisi ketika keadaan qubit sejajar sempurna. Namun, itu harus menggunakan metode perhitungan yang lebih konvensional, Tetapi jika tidak, maka komputer kuantum sangat kecil kemungkinannya untuk berhasil memecahkan SVP. Itulah mengapa enkripsi berbasis kisi aman terhadap komputer kuantum.

Akibat kekhawatiran dari ancaman kuantm, bahkan organisasi tradisional telah mengambil langkah menuju keamanan kuantum. Misalnya JPMorgan dan Toshiba telah bekerja sama untuk mengembangkan distribusi kunci kuantum (QKD), yaitu sebuah solusi yang mereka klaim mampu menahan serangan kuantum. Dengan penggunaan fisika kuantum dan kriptografi, QKD memungkinkan dua pihak untuk memperdagangkan data rahasia sekaligus dapat mengidentifikasi dan menggagalkan upaya pihak ketiga untuk memata-matai atau menguping transaksi. Konsep ini sedang direview sebagai mekanisme keamanan yang berpotensi dan berguna terhadap serangan blockchain hipotetis yang mungkin dilakukan komputer kuantum di masa depan.

Postingan terkait : 

Post a Comment

0 Comments